13 Fakta Unik dan Menarik Tentang Tupai Terbang - Dunia Fauna , Hewan , Binatang & Tumbuhan - Dunia Fauna , Hewan , Binatang & Tumbuhan

13 Fakta Unik dan Menarik Tentang Tupai Terbang

ekor9.com. Pernah melihat tupai paling spektakuler dan penuh rahasia?

Tupai terbang, yang gemar meluncur dan tidak benar-benar terbang, menjadi salah-satu makhluk mengagumkan. Sebenarnya mamalia yang lihai terbang hanyalah kelelawar. Namun tupai ini juga bisa berkelabatan di kala senja atau jelang gelap.

Tupai ini berasal dari zaman Oligosen dan sekarang hadir dalam 43 spesies. Mereka tersebar di seluruh Asia, Amerika Utara, dan Eropa. Tupai ini terbang dari satu pohon ke pohon lain menggunakan membran khusus pada tubuhnya. Membran seperti ini juga digunakan oleh sugar glider, anomalure, dan colugos (Kubung).

Tupai terbang ini netral, namun banyak manusia yang menafsirkannya. Ada yang menganggapnya sebagai makhluk mistis yang menakutkan, banyak juga yang menilainya sebagai hewan manis dan lucu.

Nah, berikut ini beberapa Fakta Unik dan Menarik tentang Tupai Terbang:

Mata tupai terbang didesain khusus untuk penglihatan malam

salah-satu bagian menggemaskan dari tupai terbang adalah matanya. Bentuknya bulat dan ukurannya besar, sehingga tampak begitu imut. Rupanya mata tersebut memang diatur secara khusus agar bisa mengumpulkan cahaya lebih banyak, sehingga penglihatan mereka di malam hari bisa tetap berkualitas. Adaptasi alami ini dilakukan juga oleh hewan-hewan nokturnal lain seperti lemur dan burung hantu.

jenis sugar glider white face,foto jenis sugar glider, jenis dan gambar sugar glider, jenis jenis sugar glider di dunia, jenis dan nama sugar glider

Sugar glider

Tupai terbang bersinar di malam hari

Baru-baru ini para peneliti mengungkapkan fakta menarik, bahwa tupai terbang bisa bersinar di kala malam. Popular Science melaporkan bahwa ada seorang profesor dari Northland College di Wisconsin, yang menyorotkan sinar ultraviolet pada tupai terbang. Lalu dia mendapati hewan tersebut bersinar berwarna pink. Penemuan spontan itu membuat tim peneliti pimpinan Allison Kohler menyimpulkan, kalau semua tupai terbang – khususnya di Amerika – memang berpendar di malam hari.

Belum diketahui pasti mengapa efek neon tersebut muncul. Namun beberapa peneliti memberikan aneka teorinya. Ada yang berpendapat kalau sinar itu bertujuan untuk menghindari predator di malam hari, sebagai navigasi medan dingin dan bersalju, serta untuk komunikasi antar tupai.

Tupai terbang memiliki ‘patagia’

Jika hewan terbang lain memiliki sayap, maka tupai terbang memiliki patagium – atau dalam bentuk jamaknya disebut ‘patagia’. Patagia itu semacam selaput berbulu yang mirip seperti parasut. Tupai akan merentangkan anggota tubuhnya dan meluncur dengan percaya diri.

Baca Juga:  13 Jenis Sugar Glider yang Bagus dengan Harga Termahal di Dunia

Mereka biasanya terbang dari satu pohon ke pohon lain. Mereka mendarat pada batang pohon dengan cara mencengkeramnya. Seringkali mereka akan bergegas untuk meluncur ke target lain, apalagi jika predator seperti burung hantu, sudah memergoki keberadaannya.

Tupai terbang mampu berputar 180 derajat dan meluncur sepanjang 91,44 meter.

Tupai ini memang tidak benar-benar terbang. Namun jarak tempuhnya di udara tetaplah mengesankan. Menurut University of Michigan Museum of Zoology, tupang terbang utara rata-rata meluncur dengan ukuran 20 meter. Ukuran tersebut bisa jadi lebih panjang jika dibutuhkan. Sehingga ukuran terpanjang yang pernah terekam yaitu mencapai 90 meter.

Kemampuan terbang tersebut tidak hanya dimiliki tupai imut. Tupai terbang merah berukuran jumbo (Petaurista petaurista) juga bisa meluncur sampai 75 meter, padahal bobot tubuhnya sekitar 1,8 kg dan panjangnya 81 cm.

Sekitar 90% tupai terbang ada di Asia

Tupai terbang liar sebenarnya ditemukan di tiga benua. Namun distribusi mereka tidak merata. Empat puluh dari 43 spesies tupai terbang rupanya endemik Asia. Dengan kata lain, mereka tidak hidup di belahan bumi lain.

Menurut penelitian terbaru, kerabat tupai terbang memang sudah menjadi penghuni kawasan Asia selama kurun waktu 160 juta tahun. Sayang sekali, sekarang-sekarang ini terjadi penggundulan yang cukup masif di Asia. Sehingga masa depan tupai terbang diprediksi cukup suram.

Tiga spesies asli tupai terbang Amerika

Tupai terbang tidak hanya eksis di Asia, melainkan juga kawasan Amerika Tengah dan Utara. Namun mereka jarang ditemukan di tempat-tempat seperti gurun, tundra, padang rumput. Tupai-tupai ini lebih mampu beradaptasi dengan iklim di berbagai hutan, dari Florida ke Alaska dan dari Honduras ke Quebec.

Tetapi tupai-tupai ini tidak seperti saudaranya yang beragam di Asia. Mereka hanya berasal dari 3 spesies saja. Ada tupai terbang selatan dan utara (Glaucomys volans), lalu ditambah lagi dengan tupai terbang Humboldt (Glaucomys oregonensis). Semuanya tersebar. Namun beberapa subspesiesnya terbilang langka. Misalnya tupai terbang San Bernardino (G. sabrinus californicus) danĀ  tupai terbang utara Carolina (G. sabrinus coloratus).

tupai bisa terbang, ciri tupai terbang, jenis tupai terbang di indonesia, gambar tupai terbang, gambar tupai terbang lokal, tupai terbang hitam, tupai terbang jenis

Anomalure – via : alchetron.com

Manusia sering tidak menyadari keberadaan tupai terbang

Mayoritas tupai terbang tidak meluncur di siang hari (diurnal). Beberapa spesies bahkan sudah menyesuaikan diri dengan kehidupan kota. Bahkan di beberapa wilayah, termasuk di sebagian besar Amerika Utara, tupai ini terlihat lebih familier dibanding yang tampak di siang hari.

Baca Juga:  Makanan Sugar Glider, dari Buah-buahan hingga Suplemen

Tupai terbang tidak hanya tersebar di hutan yang terpencil, melainkan juga pinggiran kota yang memiliki pohon-pohon tua untuk mengakomodasi pergerakan tupai terbang. Namun manusia jarang mengetahui keberadaannya, sebab mereka baru aktif ketika kita tertidur. Walau pun anda ke luar di malam hari, suasana kegelapan bisa menyamarkan aktivitas tupai terbang.

Bayi tupai terbang memerlukan pengasuhan spesial

Induk tupai terbang melahirkan bayi yang tidak berbulu. Kondisinya tidak berdaya, tidak terkoordinasi, dan bahkan berguling pun tidak mampu. Menurut University of Michigan Museum of Zoology (UMMZ), beberapa hari pasca lahirnya, bayi-bayi tupai terus menggeliat dan samar-samar mengeluarkan suara decitan.

dalam waktu dua sampai enam hari, telinga mereka mulai terbuka. Lalu bulunya tumbuh setelah semingguan. Namun mata mereka tertutup selama tiga mingguan. Sehingga dalam kurun waktu beberapa bulan, mereka menggantungkan diri pada induknya. Namun tupai terbang betina memang telaten merawat anak-anaknya dalam sarang, setidaknya selama 65 hari. Barulah pada usia 4 bulan, anak tupai mulai bisa hidup mandiri.

Uniknya, induk tupai juga membuat dan merawat beberapa sarang sekunder. Jadi ketika sarang utama sudah mulai terancam atau menghadapi bahaya, ia dan anak-anaknya bisa melarikan diri ke sana. Savannah River Ecology Lab (SREL) di University of Georgia mencatat ada tupai yang melakukan teknik ini ketika terjadi kebakaran hutan.

Tupai terbang melakukan ‘hygge’, bukan hibernasi

Beberapa tupai terbang hidup di hutan yang dingin seperti Siberia, Kanada, dan Finlandia. Namun mereka tidak berhibernasi. Hanya saja, mereka mengurangi aktivitas ketika cuacanya sedang dingin. Waktu untuk mencari makan hanya sebentar. Sebagian besar waktunya dihabiskan di dalam sarang.

Mereka juga menghadapi musim dingin dengan cara berkerumun bersama. Sehingga beberapa dari mereka terlihat berbagi sarang agar lebih hangat. Bahkan tupai terbang terkenal karena kerap berbagi sarang dengan hewan lain seperti burung hantu pekik dan kelelawar. Untuk menghemat energi, mereka juga mengurangi suhu tubuh dan tingkat metabolisme.

Baca Juga:  5 Hewan Tukang Tidur, Bahkan Ada yang Sampai 20 Jam Sehari!

Beberapa spesies bisa berukuran lebih besar dari kucing rumahan

Ukuran tupai terbang memang bermacam-macam. Spesies tupai terbang Amerika relatif lebih kecil dan mungil. Sedangkan tupai terbang Asia berukuran raksasa. Spesies tupai terbang yang jumbo bervariasi. Ada yang masih banyak, ada juga yang sudah langka.

Tupai merah putih (Petaurista alborufus) berukuran sekitar 1 m