Lengkap! A-Z Tentang Badak Bercula Satu yang Perlu Kamu Tahu

ekor9.com. Kepunahan suatu spesies bukan perkara remeh-temeh yang dapat kita abaikan. Setiap komponen alam memiliki peran dalam menjaga keseimbangan semesta dan menjaga bumi tetap lestari. Satu spesies yang hilang, akan memberi efek domino berupa kepunahan spesies lain, perubahan ekosistem, hingga bencana ekologis yang lebih besar.

Karena itu, meski kita tidak memiliki daya yang cukup untuk berbuat sesuatu, setidaknya kita perlu mengenal ragam spesies yang kini berada di ambang kepunahan. Dan, salah satu fauna yang tengah berada dalam pengawasan ketat para pegiat lingkungan di dunia, yaitu badak bercula satu, yang terdiri dari  badak Jawa dan badak India.

badak india

Rhinoceros unicornis (Badak India) bercula satu

Berikut ini informasi penting tentang badak bercula satu yang perlu kamu tahu:

  • Nama latin: Rhinoceros unicornis (Badak India) dan Rhinoceros sondaicus (Badak Jawa). Dalam bahasa Latin, “uni” artinya satu dan “cornis” artinya cula.
  • Jumlah populasi: Badak India sekitar 3500 ekor, setelah upaya konservasi di Nepal dan India Sementara badak Jawa hanya tersisa 67 ekor di Taman Nasional Ujung Kulon.
  • Penyebab penurunan populasi: (1) menjadi sasaran perburuan liar, untuk diambil culanya atau sekadar olahraga, (2) kerusakan habitat akibat pembukaan lahan hutan untuk pertanian, (3) konflik dengan manusia, (4) badak India pernah menjadi hewan aduan melawan gajah sebagai hiburan pada Kekaisaran Mughal, (5) ancaman penyakit dan bencana alam, (6) kekurangan makanan, dan (7) perkembangbiakan yang relatif lambat.
  • Berat: 1800—2700 kilogram.
  • Dimensi: tinggi sekitar 1,75—2 meter, dengan panjang 3—3.8 meter.
  • Karakter kulit: berwarna abu-abu, tanpa bulu, tebal dan berlipat, menyerupai mosaik baju baja. Ketebalan kulit sekitar 4 cm dan lapisan lemak di bawah kulit mencapai 2—5 cm, dengan aliran darah yang mengatur keseimbangan suhu tubuh di segala cuaca. Kulit yang berada di antara lipatan, area perut, wajah, dan kaki bagian dalam relatif tipis dan halus.
  • Cula: memiliiki satu cula sepanjang 20—61 cm, dengan berat mencapai 3 kilogram, dengan struktur mirip tapak kaki kuda. Dapat tumbuh kembali ketika patah, dan biasanya digunakan untuk bertarung, serta mencari makanan.
  • Rambut: terdapat di ujung ekor, sekitar telinga, dan bulu mata.
  • Pesebaran: badak India tersebar di wilayah India dan Nepal, terutama di kaki pegunungan Himalaya. Di masa lampau, pernah pula hidup bebas di bantaran sungai dan hutan sekitar Brahmaputra, Gangga, dan Indus. Sementara badak Jawa sebagian besar hidup di Asia Tenggara, hingga barat daya China.
  • Habitat: semi-akuatik, di sekitar rawa, hutan, dan tepian sungai.
  • Interaksi sosial: bersifat soliter atau suka menyendiri, kecuali betina yang tengah mengasuh bayi. Badak jantan termasuk hewan teritorial, sangat agresif mempertahankan wilayah, dan dapat berpindah, tergantung pada ketersediaan makanan dalam suatu area di musim tertentu.
  • Teritorial jantan: memenangkan wilayah melalui pertarungan, bahkan hingga salah satunya mati atau terluka parah.
  • Teritorial betina: cenderung saling bersinggungan, terutama di wilayah yang menyimpan banyak makanan.
  • Penandaan wilayah: menggunakan timbunan kotoran yang dapat mencapai lebar 5 meter dan tinggi 1 meter. Badak juga menggunakan aroma kotoran tersebut pada jejak kakinya.
  • Kematangan seksual: 4 tahun pada betina, 9 tahun pada jantan. Tidak ada musim kawin, dan jarak usia anak badak sekitar 3—4 tahun.
  • Masa kehamilan: 15—16 bulan.
  • Bayi badak: berat badan lahir sekitar 58—70 kilogram. Bersama dengan induknya selama 1,5 tahun, sebelum hidup menyendiri.
  • Pertumbuhan: dengan susu 20—30 liter/hari, anak badak tumbuh 1—2 kilogram/hari. Mereka mulai makan di usia 3—5 bulan, dan terus menyusu hingga 20 bulan. Di alam liar, anak badak rentan menjadi sasaran predator.
  • Makanan: berbagai tanaman yang berbeda hingga 183 spesies, seperti rumput, buah, dedaunan, semak, ranting pohon, tumbuhan air, hingga hasil pertanian. Setiap hari, badak bercula satu makan sebanyak 1% dari berat badannya.
  • Kebiasaan: berkubang di lumpur bersama badak lain, sebelum akhirnya berpisah kembali. Berkubang membantu mereka menjaga suhu tubuh dan membersihkan tubuh dari kutu atau parasit yang menempel di kulit. Badak juga dapat berenang, menyelam, dan makan di bawah air.
  • Gigi: badak jantan memiliki gigi seri bawah yang dapat tumbuh sepanjang 8 cm dan dapat melukai lawan ketika bertarung.
  • Suara: terdapat 12 cara badak bercula satu berkomunikasi, antara lain mendengus, meraung, dan mengeluarkan suara menyerupai klakson.
  • Jalur mobilisasi: mengikuti jejak aroma urin dan kotoran yang menempel pada kakinya.
  • Umur: 30—45 tahun di alam liar, dan tercatat paling lama 40 tahun di dalam kandang.
  • Indera: memiliki penciuman yang tajam, pendengaran yang baik, namun rabun jauh.
  • Kecepatan: 40 km/jam.
  • Ciri khusus: bibir bagian atas agak panjang, cenderung ceruk, sehingga dapat digunakan untuk mengambil makanan.
  • Status: badak India masih rentan terhadap kepunahan jika lingkungan tidak mendukung, sementara badak Jawa telah kritis dan berada di ambang kepunahan.
Baca Juga:  15 Hewan yang Hidup di Air, Ciri-Ciri Beserta Penjelasannya

Meski sering tertukar karena memiliki wujud yang sama ada beberapa perbedaan antara badan bercula satu India dan Badak Jawa, badak Jawa berukuran yang lebih kecil dari badak India. Dan, di antara kedua spesies badak bercula satu, populasi badak Jawa lebih mengenaskan dan lebih dekat kita, karena hidup dan berhabitat di wilayah Indonesia.

badak bercula satu berasal dari, badak bercula satu dilindungi di, badak bercula satu hidup di daerah, badak bercula satu dari, badak bercula satu berada di, badak bercula satu banyak dilindungi di cagar alam, badak bercula satu bahasa inggris, badak bercula satu punah, badak bercula satu adalah, badak bercula satu ada di mana

Rhinoceros sondaicus (Badak Jawa)

Yang perlu kita ketahui, demi melestarikan dan meningkatkan populasi badak Jawa, pemerintah Indonesia bekerja sama dengan YABI (Yayasan Badak Indonesia) dan para pegiat lingkungan, mengelola Taman Nasional Ujung Kulon sebagai area kondusif bagi mereka. Atas dukungan finansial dari Paignton Zoo dan Save the Rino, Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) juga melakukan revitalisasi lahan dan translokasi badak Jawa untuk membantu mereka berkembang biak dengan lebih cepat. Nah, apabila upaya translokasi membuahkan hasil, diharapkan akan ada 150 ekor badak Jawa dalam dua puluh tahun mendatang. Wah, semoga saja bisa tercapai, ya!

Baca Juga:  5 Ikan yang Bisa Hidup di Darat, Ada dalam Surat Al-Kahfi?
error: