7 Cara Menangani “Menanggulangi” Limbah Kotoran Ternak Pada Peternakan

ekor9.com. Karena proses pembusukan, limbah usaha peternakan berupa sisa pakan, air seni, dan kotoran dapat menimbulkan polusi udara, tanah, dan air.

Dengan perbaikan konstruksi kandang dan pengolahan limbah, polusi bisa dihindari, bahkan bisa dihasilkan produk lain yang bermanfaat.

Tuntutan kebutuhan akan daging yang terus meningkat dari tahun ke tahun memacu perkembangan industri peternakan, baik ternak besar maupun kecil. Hal ini bisa memberi manfaat bagi masyarakat di sekitar lokasi peternakan.

Misalnya, kegiatan penggemukan sapi potong menghasilkan kotoran untuk pupuk kandang, peternakan broiler “menghidupkan” kerajinan keranjang pengangkut ayam, dan sebagainya. Namun seiring dengan itu, peternakan juga mengakibatkan polusi bagi lingkungan apabila limbahnya tidak ditangani dengan baik.

Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya pencemaran lingkungan oleh limbah peternakan, antara lain kecilnya biaya yang dialokasikan untuk pengolahan limbah, kecenderungan peternak yang kurang memperhatikan perimbangan populasi ternak dengan luas arealnya, kurangnya kesadaran berwawasan lingkungan dari peternak, dan ketentuan pemerintah tentang izin usaha peternakan yang belum seluruhnya dipenuhi. Semua ini menjadi pemacu timbulnya pencemaran udara, tanah, dan air.

Polusi udara

cara limbah peternakan, 7 cara menangani "Menanggulangi" limbah kotoran ternak pada peternakan, cara menangani limbah kotoran ternak pada suatu peternakan, cara menangani limbah peternakan, cara menanggulangi limbah peternakan, cara mengatasi limbah peternakan ayam, cara mengolah limbah peternakan

“Sumber-sumber polusi dari peternakan antara lain sisa-sisa pakan, obat-obatan, kotoran, dan air seni ternak”, ungkap Dra. Tri Budhi M., M.Sc, Ph.D, peneliti dari Balai Penelitian Veteriner, Bogor. Selain itu Ir. Harry Panjaitan dan Pius P. Ketaren, Ph.D, dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Bogor, berpendapat bahwa  masalah utama pencemaran lingkungan kandang adalah polusi udara akibat pembusukan sisa pakan dan kotoran dalam suasana anaerob (kedap udara).

Dari proses pembusukan itu dihasilkan gas-gas yang baunya menyengat seperti amoniak, sulfida, fosfor, dan klorida. Akibat polusi udara ini tidak hanya dialami oleh ternak itu sendiri, tapi juga oleh manusia di sekeliling lokasi peternakan. Toleransi makhluk hidup terhadap pencemaran amoniak berbeda-beda.

Baca Juga:  Cara Mengawetkan Rumput untuk Makanan Ternak

Manusia bisa mentoleransi amoniak berkadar 5-10 ppm, tapi di atas 20 ppm dia mengalami iritasi mata dan saluran pernafasan. Sedangkan unggas masih bertahan pada kadar 15-20 ppm. Menurut penelitian di Amerika Serikat, pada ayam broiler poluasi amoniak sebesar 50 ppm akan menghambat pertumbuhan sampai 7%, bahkan 15% jika kadarnya terus naik mencapai 100 ppm.

Polusi tanah dan air

cara penanganan limbah peternakan, cara penanganan limbah peternakan sapi perah dan potong, cara pengolahan limbah peternakan, cara untuk menangani limbah kotoran ternak pada suatu peternakan, proses pengolahan limbah peternakan, proses pengolahan limbah peternakan menjadi biogas

Kemiringan lantai kandang sapi yang baik dapat mempermudah pembuangan kotoran

Selain udara yang tercemar gas amoniak, polusi mungkin juga terjadi pada tanah dan air. Kotoran ternak memang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk kandang oleh tanaman. Namun, pemberian pupuk kandang dalam jumlah berlebihan akan meningkatkan kandungan nitrit dan nitrat hasil pemecahan amoniak.

Demikian pula halnya dengan air seni yang berlebihan di dalam tanah. Nitrit/nitrat yang terserap tanaman lama-kelamaan terakumulasi. Jika tanaman ini dimakan oleh manusia atau ternak, maka secara tidak langsung bisa mengakibatkan keracunan.

Polusi air bisa terjadi akibat perembesan cairan kotoran ke sumber air. Cairan ini mengandung amoniak, nitrit/nitrat, dan bakteri coli. Populasi bakteri yang tinggi akan menyebabkan sakit perut.

Alternatif penanggulangan

proses pengolahan limbah peternakan menjadi biogas, cara penanganan limbah peternakan, cara penanganan limbah peternakan sapi perah dan potong, cara pengolahan limbah peternakan, cara untuk menangani limbah kotoran ternak pada suatu peternakan, proses pengolahan limbah peternakan

Biogas menjadi salah satu alternatif pengolahan limbah “kotoran” peternakan

Ada beberapa cara yang dianjurkan oleh para ahli untuk mengatasi pencemaran akibat limbah ternak, yaitu memperbaiki konstruksi kandang serat perlengkapannya, dan pengelolaan kotoran itu sendiri. Hal-hal yang bisa dilakukan terhadap kandang antara lain :

  1. Mengurangi kelembapan kandang untuk menjaga kotoran tetap kering, sehingga tidak berbau. Caranya, lantai kandang dibuat lebih tinggi dari daerah sekitarnya, dan ventilasi diperbanyak. Ini bisa diterapkan baik pada ternak besar maupun unggas.
  2. Lantai kandang dibuat keras dan miring agar kotoran lebih mudah dibersihkan. Lantai dan lorong kandang dibuat miring ke arah saluran kotoran, sementara saluran ini miring ke arah bak penampung.
  3. Disediakan bak penampung kotoran dengan kapasitas yang memadai. Bak ini sebaiknya dibuat bersemen agar tidak terjadi perembesan, dan letaknya harus jauh dari sumber air minum.
Baca Juga:  22 Jenis Ayam Kate Terbagus Paling Unik di Dunia dan Gambarnya

Selain kandang, sisa pakan dan kotoran itu juga perlu dikelola agar baunya bisa dikurangi. Beberapa langkah yang bisa ditempuh ialah :

  1. Penambahan hipoklorit, zeolit, atau sekam yang bersifat higroskopis pada kotoran.
  2. Penambahan zat pengikat amoniak, atau amoniak diisap dengan sistem penyaringan udara. Pengisapan ini bisa dilakukan pada kandang yang tertutup.
  3. Pengolahan kotoran menjadi biogas dengan proses fermentasi anaerob. Selain menghasilkan bahan bakar metana, upaya ini juga bisa mengurangi bau dan pencemaran oleh bakteri dan jamur yang terdapat dalam kotoran tersebut. Tidak hanya biogas, kotoran juga bisa dikeringkan dengan teknik khusus, kemudian dijadikan pupuk berbentuk pelet. Namun, teknik ini memerlukan biaya cukup tinggi.
  4. Mereduksi kandungan fosfor dalam kotoran dengan pemberian yeast culture dalam pakan dan enzim yang dapat meningkatkan penggunaan P dalam biji-bijian (phytase).

Beberapa cara ini memang tidak mudah dilakukan dan pasti akan membutuhkan biaya. Dari langkah-langkah tersebut bisa dipilih cara yang paling mungkin dilaksanakan, seperti halnya TAPOS memilih membuang limbahnya pada kebun rumput. Atau, peternakan tersebut dipindahkan ke lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk.

Hal ini dilakukan oleh PT. Bina Karunia Alam Nusantara, perusahaan yang menangani penggemukan sapi potong di Yogyakarta. Sedangkan pemerintah mengambil tindakan mendirikan Kawasan Industri Peternakan (KINAK) agar dapat mengontrol pencemaran. 7 Cara Menangani “Menanggulangi” Limbah Kotoran Ternak – #PR

error: