10 Negara Penghasil Ayam Terbesar di Dunia, Adakah Indonesia?

ekor9.com – Negara Penghasil Ayam Terbanyak di Dunia. Kita mengenal berbagai olahan ayam menghiasi ragam kuliner nusantara. Ayam betutu, ayam kalasan, ayam penyet, ayam geprek, sempol ayam, dan berbagai kreativitas “perayaman” lainnya begitu mudah kita jumpai di restoran hingga warung makan pinggir jalan. Ayam menjadi favorit masyarakat, karena memiliki harga yang terjangkau dan halal dimakan jika dikelola dengan baik dan benar.

negara penghasil ayam paling terbesar di dunia adalah

Namun, tidak hanya beken di Indonesia, daging ayam juga menjadi daging yang paling banyak dikonsumsi, diproduksi, dan diekspor ke segala penjuru dunia. Lebih dari 50 miliar ayam diternakkan untuk menjadi makanan dan triliunan telur pun terjual di pasar setiap harinya. Beragam jenis ayam yang dipelihara di Indonesia sebagai tujuan komersial; ada ayam buras (ayam kampung), ayam layer (petelur) dan ayam broiler (potong atau pedaging) dll.

Menariknya, masing-masing peternakan ayam memiliki beberapa pilihan metode untuk menghasilkan ayam yang siap diperjualbelikan.

Daftar Isi :

Baca Juga:  10 Jenis Ayam Pedaging Terbaik di Dunia Saat Ini Beserta Gambarnya

Berikut ini 4 Metode Beternak Ayam untuk Konsumsi:

1. Free range

Dengan metode ini, ayam dibiarkan bebas bergerak dan berkeliaran namun tetap ada batas. Ayam dapat dijual atau disembelih jika telah mencapai berat 1 kg atau lebih, metode ini biasanya digunakan untuk ayam kampung dan ayam joper. Umumnya, dengan pakan seperti voer butuh 8 minggu untuk ayam joper, dan 4 bulan bulan untuk ayam kampung mencapai berat optimum layak jual atau dipanen.

Tapi biasanya peternak yang belum menemukan pengepul secara rutin, mereka memantau pergerakan harga ayam di pasaran kalau belum bagus atau harga sedang turun mereka enggan menjual ayanya. Kecuali dekat dengan hari raya mereka ramai-ramai menjual ayamnya karena harganya sedang naik-naiknya.

2. Organik

Pada metode ini, ayam tidak biasa diberi zat aditif atau vitamin lain di pakan dan air minumnya, biasanya yang memeliharanya ayam dengan metode ini adalah mereka yang di perkampungan, kalau orang Sunda bilang “tamba kesel” nyambi aja, iseng-iseng gitu.

Oleh pemelihara, ayam-ayam tersebut dibiarkan bebas berkeliaran di pagi hari dengan tujuan ayamnya mencari makan sendiri di lingkungan sekitar tanpa ada batas, oleh sebab itu ayam-ayam dengan metode ini rawan dicuri. Ayam-ayam ini hanya diberikan kandang seadanya, supaya ayam ada tempat kembali ketika sore hari.

Baca Juga:  Manajemen Pemberian Komposisi Pakan Pada Sapi Perah Dara dan Masa laktasi

Pakan utama yang mereka berikan cukup dengan dedak yang dibasahi air, kalau ada nasi atau makanan lebih dapat diberikan ke ayam. Mereka tidak menargetkan kapan panen, karena umumnya mereka konsumsi sendiri. Namun bila ayamnya sering bertelur, beranak pinak dan kandangnya terlalu penuh, mereka akan menjual sebagian ayam-ayamnya sebagai tambahan uang saku.

3. Indoor dengan kesejahteraan lebih tinggi

Biasanya digunakan dalam pemeliharaan ayam broiler, bisa diterapkan di kandang open ataupun semi close house. Menggunakan kandang atau indoor dengan kepadatan saat panen mencapai 13 ayam/m².

Dengan metode ini ayam-ayam tetap didukung dengan pencahayaan alami, alas jerami atau sekam padi serta perlakuan yang lebih baik demi menghasilkan ayam yang sehat. Biasanya, sekitar 4-6 minggu, ayam  telah siap dipanen dan disembelih.

4. Indoor

Cara yang paling cepat, tapi bisa dibilang kurang sehat, namun banyak digunakan. Indoor dengan kandang baterai ataupun kandang Close House, menggunakan kandang yang besar dan dapat menampung populasi hingga puluhan ribu ayam, dan ketika panen mencapai kepadatan 20-30 ayam/m².

Cahaya alami dan sirkulasi udara terbatas, sehingga rawan kontaminasi. Usia 4-7 minggu, ayam-ayam siap dipanen dan disembelih. Konon, pemeliharaan ayam-ayam dengan metode ini masih menggunakan hormon pertumbuhan ayam yang berdampak buruk bagi organ tubuh ayam.

Baca Juga:  Mencegah dan Mengatasi Penyakit Anthrax pada Hewan Ternak

Selanjutnya, setelah dibesarkan dan mencapai bobot standar, ayam-ayam ini dikirim ke RPH, untuk disembelih hingga dicabuti bulunya, untuk kemudian dipisahkan kepala dan kakinya. Setelah melalui serangkaian tahapan, daging ayam dipotong-potong, dikemas, dan harus diolah dalam 2- 3 minggu kemudian.

Sementara itu, untuk produk daging ayam beku, biasanya ditambahkan minyak dan garam untuk mengempukkan daging dan mengawetkannya demi menjalani perjalanan ekspor yang bisa mencapai 3 bulan.

Lantas, dengan melalui proses panjang tersebut, negara mana yang menghasilkan daging ayam paling banyak di dunia? Apakah Indonesia termasuk salah satunya? Dikutip dari laman whichcountry.co dapat kita lihat sebagai berikut :

negara yang menghasilkan ayam broiler pedaging paling terbanyak di dunia

10 Negara Penghasil Ayam Terbanyak di Dunia:

1. Amerika Serikat – 18,29 juta metrik ton.

2. Brazil – 13,6 juta metrik ton.

3. China – 12,7 juta metrik ton.

4. India – 4,2 juta metrik ton.

5. Rusia – 3,75 juta metrik ton.

6. Meksiko – 3,27 juta metrik ton.

7. Argentina – 2,1 juta metrik ton

8. Turki – 1,9 juta metrik ton.

9. Thailand – 1,78 juta metrik ton.

10. Indonesia – 1,64 juta metrik ton.

Dapat ditebak, Amerika Serikat menduduki peringkat pertama dan menjadi kampung halaman dari makanan cepat saji olahan ayam dengan brand yang mendunia. Dan, meski paling akhir, ternyata Indonesia masuk dalam 10 besar eksportir ayam di dunia. Cool! – #NSP

error: